Pipanisasi Kampung Cuntel Gunung Merbabu

Oleh: Daarul Qur'an ( Admin Daarul Qur'an)

"Wonder Woman" dari Lereng Merbabu, Kulitnya tak lagi kencang, hampir seluruh rambutnya sudah dipenuhi uban, bahkan langkah kakinya sudah mulai

16.99%
Rp. 8.492.563
51
9 Hari lagi
SHARE

 

Jika sosok Wonder Woman selalu digambarkan dengan penampilan yang cantik, kuat dan menarik  berbeda halnya dengan wonder woman asal Kopeng ini. Kulitnya tak lagi kencang, hampir seluruh rambutnya sudah dipenuhi uban, bahkan langkah kakinya sudah mulai gemetar. Namun, untuk urusan semangat dan kekuatan tak bisa dipandang sebelah mata.

Wasiyem namanya. Saat ditanya berapa usianya kini, lebih dari 80 tahun jawabnya. Menariknya wanita yang kerap dipanggil Mbah Siyem ini masih melakukan aktivitas-aktivitas berat yang umumnya dilakukan orang berusia muda dengan stamina yang prima. Setiap adzan Subuh memanggil Mbah Siyem menjadi wanita pertama yang berada di shaf depan, selesai shalat pun Mbah Siyem tak langsung berleha-leha di rumah melainkan bergegas menuju kebun untuk menggarap lahannya. Keempat anaknya sudah berkeluarga semua dan tinggalah Mbah Siyem di rumahnya sendiri. Tidur dan masak, makan hingga mencuci dilakukannya sendiri. Tanpa mengandalkan bantuan orang lain.


(sumber : Dokumentasi Mbah Siyem sedang membantu mengangkat material untuk membangun penampungan air) 

Semangat Mbah Siyem nyatanya mampu mentransfer energi bagi warga lainnya yang sedang bergotong royong mengangkut pasir dan batu pada proses pembangunan bak penampungan melalui program pipanisasi yang di prakarsai PPPA Daarul Qur’an Semarang. Berbekal kain sebagai pelindung kepala dan kaki tanpa alas, ritme Mbah Siyem seakan tak mampu dikejar  ibu-ibu lainnya yang juga bahu membahu mengangkut material menuju lokasi pembangunan bak penampungan. Tak jarang Mbah Siyem selalu memaksa membawa dua buah batu berukuran besar dalam sekali angkut, sebuah semangat yang tak bisa disepelakan. Senyum tanpa gigi dan keceriaannya mampu menghilangkan segala rasa letih dan menghangatkan suasana kala itu.

Kebahagiannya adalah kini setidaknya ia tak susah lagi mendapatkan air bersih untuk berwudhu atau ketika kemarau mulai melanda. Air bersih itu berasal dari sumber mata air yang dialirkan melalui pipa-pipa melewati tebing-tebing curam menuju bak penampungan akhir dan dialirkan menuju Masjid Baiturrahman serta rumah-rumah warga tanpa melihat suku dan Agama.

Jangan kalah dengan Semangat Mbah Siyem dalam menebar kebaikan, sahabat juga bisa menanam bibit kebaikan dalam terwujudnya Kampung Qur’an Gunung Merbabu melalui Program Pipanisasi melalui sedekahonline.com atau #SedekahAja.

Untuk Mendukung Program ini Caranya :

1. Klik tombol "SEDEKAH SEKARANG"
2. Pilih "NOMINAL" dengan klik "Panah Bawah" dan Sertakan Doa.
3. Isi form yang sudah tersedia dengan benar
4. Pilih metode pembayaran (Transfer Bank BCA, BRI, Mandiri, BNI Syariah dan BNI Virtual Account) dan jika sudah login bisa menikmati fasilitas "Komitmen Sedekah"
5. Transfer sesuai dengan kode unik yang terdapat di invoice yang sudah dikirim melalui email atau sms.

6. Jika menggunakan metode pembayaran BNI Virtual Account diharapkan sesuai dengan total biaya yang sudah ditambahkan dengan biaya admin bank.
7. Dapatkan update laporan program via email dan pastikan email Daarul Qur'an berada di kotak masuk/primary Anda.
(**Jika Anda mengalami kesulitan bisa mengirimkan pesan chat kepada kami dengan klik "Tombol Bantuan")

Toa Sukemi Memanggil Bambu Sutimin

Bakda Subuh suara Pak Kemi terdengar dari toa Masjid Baiturrahman yang menggema di langit Dusun Cuntel, Semarang, Jawa Tengah, Rabu (8/5). Sebuah pengumuman tentang kerja bakti pengambilan bambu yang berada di hutan Merbabu sebagai salah satu bahan pembangunan bak penampungan air yang diprakarsai PPPA Daarul Qur’an Semarang bekerjasama dengan Yayasan Hasanah Titik dan BNI Syariah. Tak perlu menunggu lama Sukiman disusul warga lainnya sudah berkumpul di lokasi pembangunan pukul 05.30 WIB.


Sumber : Dokumentasi PPPA Daaruul Qur'an saat pengecoran penampungan air warga gunung merbabu

Puluhan bambu sudah mulai terkumpul, namun bambu yang dibutuhkan nampaknya lebih banyak dari jumlah bambu yang sudah terkumpul. Mendengar hal tersebut, Pak Sutimin pun langsung menawarkan diri sebagai donatur bambu. Tak tanggung-tanggung kurang lebih sekitar 230 bambu disumbangkan secara cuma-cuma untuk keperluan pembangunan.

Tak ketinggalan Pak Toyo (86) bersama 15 laki-laki lainnya bergegas menyusul Pak Sutimin menuju Merbabu dengan sebilah golok tajam di tangan kanannya juga sebuah topi penghangat dengan sarung yang dikalungkan di pundaknya. Lucunya, dari beberapa laki-laki yang masih terlihat muda dan kuat tak ada yang kuat untuk memotong bambu-bambu tersebut. Pak Toyo dan Sukiman yang sudah tak lagi muda justru masih kuat memotong batang-batang bambu yang letaknya tersebar.

Tak jarang Pak Toyo dan Pak Timin harus mengambil risiko terjatuh karena tidak semua pohon bambu berada di posisi landai, banyak pula pohon-pohon bambu yang letaknya tepat di pinggir jurang atau di tempat-tempat yang sulit dijangkau. Pak Toyo dan Pak Timin harus merasakan sengatan tajam semut rangrang yang mengerubungi ketika bambu-bambu mulai berjatuhan. Sementara Pak Toyo dan Pak Timin menebang bambu, warga lainnya bergantian mengangkuti bambu menuruni Merbabu menuju lokasi pembangunan.

Ini adalah kebaikan yang melahirkan kebaikan baru, dimulai dari sebuah harapan tentang ditemukannya sebuah sumber mata air baru Pak Kemi, Husein dan Supangat, yang kemudian disusul dengan pemberian wakaf sebidang tanah oleh Pak Toyo sebagai lokasi pembangunan bak penampungan air dan melalui bambu-bambu Pak Sutimin kini bak penampungan itu telah melewati masa pengecoran.

Yuk jadi bagian dalam mewujudkan Harapan serta Mimpi warga Cuntel pada Program Pipanisasi Kampung Qur'an Merbabu melalui sedekahonline.com.

Rp. 100.000

Srie rejeki
18 May 18


Rp. 100.000

Tuki
18 May 18


Rp. 100.000

Inggrit Runny Kusumawati
18 May 18


Rp. 1.000.000

Achmad Farid
14 May 18


Rp. 50.000

Evi
14 May 18


TAMPILKAN DONATUR LAINNYA

SHARE