Menjadi Bagian Gerakan Tahfizh Dunia

Oleh: Daarul Qur'an ( Admin Daarul Qur'an)

Sedekah Awal Tahun: Menjadi Bagian Gerakan Tahfizh Dunia, Sudah hampir 10 tahun KH Yusuf Mansur bergabung dalam Lembaga Tahfizh Internasional.

OPEN GOAL
Rp. 142.682.986
844
SHARE

 

Sudah hampir 10 tahun KH. Yusuf Mansur bersama Daarul Qur'an bergabung dalam Lembaga Tahfizh Internasional, membawahi lembaga-lembaga di 70 negara yang fokus mengembangkan gerakan Tahfizhul Qur’an.

“Indonesia ikut suplai pemikiran, gagasan, ide, sistem dan program. Termasuk soal tahfizh ke dunia internasional,” ucap UYM sapaan akrabnya.

Karenanya ia mengajak seluruh masyarakat, jemaah dan donatur untuk terlibat mendukung gerakan tahfizhul Qur’an dan para penghafal Qur’an dunia melalui sedekahonline.com dengan sedekah Rp. 100 ribu per bulan.

“Mudah-mudahan Allah SWT. menjadikan sedekahonline.com wasilah buat kita semua bersedekah ke seantoero dunia Allah SWT,” tutur UYM.

Untuk Mendukung Program Ini Caranya :

1. Klik tombol "SEDEKAH SEKARANG".
2. Masukkan "NOMINAL" yang anda inginkan dan "Sertakan Doa terbaik Anda".
3. Pastikan Anda sudah mengisi form yang tersedia dengan benar.
4. Pilih metode pembayaran (Transfer Bank BCA, BRI, BNI Syariah dan Virtual Account BNI) dan jika sudah login bisa medapatkan "kemudahan dalam bertaransaksi"
5. Lakukan transfer sesuai dengan Informasi yang terdapat di invoice yang dikirim melalui email atau sms.

6. Jika menggunakan metode pembayaran Virtual Account diharapkan melalukan pembayaran sesuai dengan total biaya yang sudah ditambahkan dengan biaya admin bank.
7. Pastikan email Daarul Qur'an dan Sedekah Online berada di "kotak masuk/primary Anda" untuk mendapatkan update laporan program melalui email.

(**Jika Anda mengalami kesulitan bisa mengirimkan pesan chat kepada kami dengan klik "Tombol Bantuan")

UPDATE 15 : Rumah Tahfizh Center Melantik Korda di NTB

PPPA Daarul Qur’an terus berupaya membumikan dunia dengan Al-Qur’an. Salah satu ikhtiar mewujudkan cita-cita tersebut adalah dengan mendirikan rumah-rumah tahfizh di kota maupun pelosok Nusantara. Seperti Rumah Tahfizh Center (RTC) yang baru-baru ini melantik seorang koordinator daerah (korda) untuk wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB).

Ustaz Yadi namanya, ia resmi direkrut RTC pada Senin (13/5). Keinginan besar Ustaz Yadi untuk mengembangkan rumah tahfizh binaannya sendiri hingga “Go Internasional” membuatnya berusaha mewujudkan mimpinya tersebut. Sejak 2017 lalu, ia telah memiliki rumah tahfizh bernama Nurul Yaqin At-Tanwir dengan 48 santri yang telah memiliki hafalan 15 juz.

"Alhamdulillah, setelah bergabung saya pribadi merasa lebih semangat untuk mensyiarkan Qur'an di NTB. Semoga RTC selalu memberikan yang terbaik untuk ummat,”ujarnya.

Ustaz Yadi kini ditugaskan menjadi koordinator rumah tahfizh wiayah NTB meliputi daerah Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Utara, Lombok Timur, Sumbawa, Bima dan Dompu. Ia berharap bisa mengajak seluruh elemen dan lembaga di NTB untuk ikut bergabung mendawamkan dan membumikan Qur’an di tanah NTB.

Sementara itu, Kepala Penelitian dan Pengembangan RTC Ustaz Halimi mengatakan pembentukan korda di berbagai daerah adalah ikhtiar mendawamkan Qur'an di seatero Nusantara. “Kami telah membentuk korda rumah tahfizh untuk mengembangkan dan mendirikan semakin banyak rumah tahfizh di Indonesia,” tuturnya.

 

UPDATE 14: Pesantren DAQU Gelar Wisuda Tahfizh Nasional 2019

Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an (DAQU) menggelar Wisuda Tahfizh Nasional (WTN) 2019 pada Sabtu (4/5/2019). Kegiatan yang melibatkan 549 santri dari Pesantren Tahfizh Daarul Qur'an, Rumah Tahfizh dan Pesantren Takhassus di seluruh Indonesia ini dilaksanakan di area Pesantren Tahfizh Daarul Qur'an, Ketapang, Cipondoh, Tangerang.

Gelaran acara ini dihadiri Wali Kota Tangerang Arief Rachadiono Wismansyah, Atase Kedutaan Besar Arab Saudi Fawwaz Alothaymin dan seluruh pimpinan Daarul Qur’an KH Yusuf Mansur, KH Ahmad Kosasih, KH Ahmad Jameel, Ustadz Anwar Sani, seluruh syeikh serta keluarga besar Daarul Qur’an. Selain itu, acara ini juga dihadiri oleh para wali santri yang berbahagia karena anak-anak mereka akan diwisuda.

Salah satu santri yang menjadi wisudawan pada WTN 2019 ini adalah Rohmat Mukhtar Alfian Rizki atau kerap disapa Alfian. Ia merupakan salah satu dari sembilan santri dari Rumah Tahfizh al-Qur'aniy Lampung asuhan Ustadz Khoiroddin. “Saya senang sekali bisa jadi peserta WTN. Kemarin persiapan ujian cukup lama. Alhamdulillah bisa lolos," ujarnya.

Sementara itu Koordinator Daerah Rumah Tahfizh Center (RTC) Lampung Ustadz Khoiroddin mengungkapkan bahwa selain Alfian, ada sekitar 16 santri dari Lampung yang mengikuti ujian. Akan tetapi hanya sembilan yang dinyatakan lolos oleh Biro Tahfizh Daarul Qur'an.

“Kami berharap selain Alfian dan wisudawan lainnya, akan terus lahir penghafal Qur'an dari seluruh penjuru Indonesia yang akan mengharumkan bangsa Indonesia dengan ayat-ayat al-Qur'an. Sehingga, Indonesia menjadi tanah yang Allah cintai lantaran dipenuhi dengan ahlul Qur'an,” tuturnya.

WTN 2019 kali ini berlangsung sangat meriah. Apalagi Kedutaan Besar Arab Saudi juga ikut memberikan hadiah umrah untuk 10 santri terbaik. Sujud syukur dilakukan oleh sejumlah santri yang mendapat penghargaan tersebut.

Mari terus dukung program Menjadi Bagian Gerakan Tahfizh Dunia. Semoga Allah SWT melimpahkan balasan kebaikan yang berlimpah bagi setiap rupiah donasi yang dikeluarkan oleh Anda semua. Aamiin.

 

UPDATE 13 : Kaum Ibu Ikuti Wisuda Tahfizh Kaliwadas

Belasan kaum ibu nampak berpartisipasi menjadi peserta pada gelaran Wisuda Tahfizh ke-6 yang diselenggarakan Rumah Tahfizh Daarul Qur’an Kaliwadas, Desa Pagon, Purwadadi, Subang, Jawa Barat pada Sabtu (12/1/2019).

Salah satunya Hajah Ade (62) yang mulai menghafal surat an-Naml sejak September 2018 lalu. Hajah Ade berhasil menghafalkan 93 ayat dari surat tersebut dalam waktu kurang lebih satu bulan. Ia mengaku menghafal untuk memperbaiki bacaan shalatnya.

Rumah Tahfizh Kaliwadas telah berdiri sejak tiga tahun lalu. Dari rumah tahfizh ini lahir banyak penghafal Al-Qur’an. Bahkan tak sedikit santri yang kemudian dikirim ke Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an Takhassus untuk melanjutkan hafalan Qur’annya di sana.

Untuk diketahui, kegiatan wisuda tahfizh Rumah Tahfizh Kaliwadas ini digelar guna memotivasi para santrinya untuk menghafal Al-Qur’an. Wisuda tahfizh ini dimulai dari surat An-Naml, Ar-Rahman hingga juz 26-30. Selain kaum ibu, kegiatan ini juga diikuti oleh anak-anak dan remaja.[]

 

UPDATE 12 : Generasi Penghafal Qur'an di Perbatasan Indonesia-Malaysia

PPPA Daarul Qur’an melalui program Kampung Qur’an dan Rumah Tahfidz telah memberi warna baru bagi masyarakat di Desa Binalawan, Nunukan, Pulau Sebatik, Kalimantan Utara (Kaltara). Masyarakat menjadi lebih tercerahkan mengenai pentingnya menghafal al-Qur’an. Hal ini terlihat dari antusiasme anak-anak untuk belajar tahsin dan tahfizh di Rumah Tahfizh Al-Mujahidin yang hingga saat ini memiliki 45 orang santri aktif.

Salah satu kegiatan untuk mengakomodasi antusiasme masyarakat, pada liburan semester yang lalu Rumah Tahfizh Al-Mujahidin menggelar acara Pesantren Tahfizh Holiday ‘Tujuh Hari Hafal Juz Amma’ pada 24-30 Desember 2018. Kegiatan ini disambut baik para santri dan diikuti 21 orang yang terdiri dari 12 santri putra dan sembilan santri putri.

Pengasuh Rumah Tahfizh Al Mujahidin Pulau Sebatik, Ustadz Ilham, menyebutkan,
kegiatan ini difokuskan untuk menyelesaikan target hafalan Juz Amma dan juga menerapkan Daqu Method. Ia bersyukur lantaran dari 21 santri yang hadir, kurang lebih 10 santri menyelesaikan hafalan juz 30 itu.

“Semoga kegiatan ini memberikan motivasi bagi generasi muda Sebatik untuk mulai mencintai al-Qur’an dengan senantiasa mempelajari dan menghafalkannya, serta hidup berlandaskan al-Qur’an dan as-Sunnah,” harapnya. []

 

UPDATE11, Jawa Timur Menghafal

PPPA Daarul Qur’an menggelar ujian dan wisuda tahfizh Jawa Timur (Jatim) menghafal di Gedung Al-Asyari Universitas Islam Malang (Unisma), Selasa (25/12). Acara ini merupakan salah satu ikhtiar demi membumikan Al-Qur’an di seluruh kota sampai pelosok Jatim.

Kemegahan Gedung Al-Asyari menjadi saksi lantunan ayat-ayat suci yang dibacakan santri. Mengharukan, bagaimana tidak, sekitar 3000 peserta dari santri rumah tahfizh Daarul Qur’an se-Jatim dan masyarakat umum berbondong-bondong menunjukkan kecintaannya pada Al-Qur’an.

Seragam yang dipakai santri pun bak pelangi yang menghiasi gedung bundar megah tersebut. Mulai dari santri yang berasal dari Madura, Lumajang, Jember, Probolinggo, sampai Bojonegoro dan Lamongan. Hanya binar semangat yang terpancar saat hendak mengikuti ujian.

Prosesi ujian berlangsung bersamaan dengan pembukaan acara wisuda tahfizh Jatim Menghafal. Para santri dari Rumah Tahfizh Kepuh memimpin menyanyikan lagu Mars Daarul Qur'an. Sedangkan santri Rumah Tahfidz Daarul Quran Surabaya melantunkan lagu Indonesia Menghafal Qur'an.

Disisi lain, Iqbal dan Hasna dua santri penerima Beasiswa Tahfizh Qur’an (BTQ) for Leaders didapuk menjadi pembaca tilawah dan sari tilawah. "Alhamdulillah, saya senang banyak generasi belia sampai tua bersemangat menghafal Al-Qur’an,” tutur Prof. Dr. Maskuri, M.Si. saat memberikan sambutannya.

Puncak acara adalah Tausiyah dari Dewan Syariah PPPA Daarul Qur’an KH Ahmad Kosasih. Ia menyampaikan keistimewaan hidup bersama Al-Qur’an. Kemudian, Dalam kesempatan ini, Kyiai Kosasih memimpin  pembacaan ikrar Wisudawan dan Wisudawati dengan khusyuk dan tenang.

Menariknya, ada pemberian hadiah untuk peserta termuda dan mewakili yang usia tua. Muhammad, si kecil yang berusia dua tahun dari Probolinggo mengikuti ujian surah pilihan An-Naba'. Sedangkan Ibu Mamik Nurahayu yang merupakan donatur setia Daarul Qur'an Malang mengikuti ujian surah An-Naml.

Alhamdulillah, semua prosesi mulai dari ujian sampai wisuda terlaksana dengan lancar, stand bazar pun sangat ramai dikunjungi. Begitu banyak berkah dan hikmah kebaikan yang dipelajari, dari santri, penguji, institusi pendidikan, panitia, dan masyarakat umum. Semoga Allah meridhainya. Aamiin.

 

UPDATE 10, Memperluas Gerakan Tahfizh Yogyakarta

Satu per satu antrian tes tahsin dan wawancara calon santri Grha Tahfizh II Daarul Qur’an Yogyakarta telah terambil. Setiap sesinya, puluhan santri terlihat khidmat memenuhi ruang tunggu tes untuk menanti gilirannya. Begitulah antusias calon santri Grha Tahfizh yang menunjukkan ghiroh mempelajari Qur’an di kelas-kelas Tahsin, Tahfizh, Bahasa Arab, Tafsir, dan Tilawah. Menariknya, selain dibuka untuk umum Grha Tahfizh juga membuka kelas khusus Tahsin for Mom, Tahsin for Dad, dan Tahsin for Takmir.

Tingginya minat belajar Qur’an membuat seleksi ini berlangsung selama dua hari pada 21-22 Desember 2018. Awalnya proses seleksi dijadwalkan berlangsung pukul 10.00-16.30 WIB. Namun, karena calon santri terus berdatangan seleksi santri justru baru berakhir pada pukul 20.00 WIB Jum’at (21/12) dan dilanjut pada hari berikutnya.

Grha Tahfizh II Daarul Qur’an Yogyakarta ini berdiri pasca kesuksesan Grha Tahfizh I yang telah membimbing 300 santri dari kalangan masyarakat umum. Dari 523 calon santri yang mengikuti seleksi di Grha Tahfizh II, nantinya akan diterima 300 santri saja. Adapun lokasi Grha Tahfizh II ini berada di Jalan Nitikan Baru No 14, Sorosutan, Umbulharjo, Yogyakarta. Disinilah salah satu pusat gerakan tahfizh masyarakat umum yang akan beroperasi pada 3 Januari 2019 nanti.

“Saya baru ketemu di Grha Tahfizh ini yang bisa belajar tahfizh secara rutin, jadi keliatan progresnya, meskipun pada akhirnya saya haru masuk kelas tahsin dulu karena ternyata setelah di tes belum benar tahsinnya,” jawab Lasmi Deslaila (22) salah satu calon santri yang telah mengikuti tes tahsin dan wawancara.

Ada standar tahsin yang memang harus dimiliki setiap santri yang mendaftar kelas tahfizh. Hal ini ditujukan untuk menjaga kualitas bacaan santri ketika menghafal. Alasan tersebut juga dipahami Lasmi dan santri lainnya demi kesempurnaan bacaan Qur’ani. Semoga dengan dibukanya Grha Tahfizh II ini, gerakan tahfizhul Qur’an di Yogyakarta semakin massif dan meluas, Insyaallah.

 

UPDATE 9, Said Jaga Hafalan

Said sapaan akrabnya, pemuda berusia 17 tahun ini sangat bersyukur bisa tinggal di Rumah Tahfizh Daarul Qur’an Malang, Jawa Timur. Sebab sebelum menemukan rumah tempat menghafal Qur’an, mahasiswa di Bumi Arema ini sangat gundah hatinya. Said takut tak bisa mempertahankan hafalan yang telah ia miliki selama enam tahun belajar di pondok.

“Karena saya dari SMP dan SMA sudah masuk di pondok tahfizh, pas kuliah bingung mau menjaga hafalan gimana ? Alhamdulillah ketemu sama Daarul Qur’an dan sekarang bisa bermukim di sini,” ujar Said yang saat ini baru mengenyam pendidikan di Universitas Brawijaya (UB).

Said yang tampak malu-malu saat menceritakan kesehariannya di rumah tahfizh kepada Direktur Utama PPPA Daarul Qur’an Muhammad Anwar Sani itu mengatakan, hafalannya sudah 30 juz. Di Rumah Tahfizh Daarul Qur’an Malang sendiri ada 15 mahasiswa mukim untuk menjaga hafalan Qur’an. Mereka dari berbagai kampus seperti Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang dan UB.

Alhamdulillah, tiada hari tanpa Qur’an di rumah tahfizh. Pagi kami setor hafalan, malam kami murajaah dan ada juga kajian-kajian Islam di waktu-waktu tertentu. Mudah-mudahan langkah bersama Qur’an ini membawa kami dalam keberkahan hidup,” harap Said.

Ustad Sani yang berkunjung ke pusat belajar Qur’an di Malang itu berpesan kepada Said dan seluruh santri baik di rumah-rumah tahfizh, pesantren dan kampung Qur’an untuk mengenggam dunia dengan Al-Qur’an di setiap langkah kehidupan. Karena dengan memuliakan Al-Qur’an, umat muslim akan mendapat kesuksesan dunia akhirat.

“Said adalah salah satu dari puluhan ribu santri yang tengah belajar dan menghafal Qur’an di rumah-rumah tahfizh. Mereka adalah generasi penerus yang akan mendawamkan Qur’an ke seantero dunia. Terima kasih kepada seluruh donatur yang selama ini telah mendukung bersama Daarul Qur’an bergerak dalam dakwah tahfizhul Qur’an,” ujar Anwar Sani.

 

UPDATE 8, Dream Lima Benua Bersama Rumah Tahfizh

Rumah Tahfizh Center (RTC) yang berada di bawah naungan PPPA Daarul Qur’an menggelar Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) di Cibedug, Bogor, Jawa Barat pada 19-21 Desember. Kegiatan ini dihadiri oleh para koordinator RTC yang datang dari berbagai provinsi.

Koordinator Daerah (Korda) RTC adalah para pejuang Qur’an yang selama ini membuat rumah tahfizh menjalar hingga pelosok-pelosok desa bahkan sampai ke daerah perbatasan. Di Pulau Sebatik misalnya, wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia itu kini tengah melahirkan generasi penghafal Al-Qur’an.

Bersama RTC, para Korda Rumah Tahfizh berjuang untuk mencetak generasi Qur’ani yang tak hanya mampu menghafal dan mengajarkan Al-Qur’an tapi juga menjadikan kalam Allah tersebut sebagai pedoman dan menerapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Direktur Utama PPPA Daarul Qur’an Muhammad Anwar Sani mengapresiasi perjuangan para Korda Rumah Tahfizh. Sebab mereka mampu melewati tantangan yang berat di perbatasan dan pedalaman Indonesia dalam perjalanan mendawamkan Qur’an di daerah masing-masing.

“Saya mengucapkan terima kasih sedalam-dalamya atas kerja keras teman-teman di daerah yang luar biasa dalam mengembangkan, memajukan dan menghidupkan rumah tahfizh,” ujar Ustad Sani sapaan akrabnya saat memberi sambutan di acara Rakornas.

Ia berpesan kepada para korda yang rata-rata memiliki pesantren dan rumah tahfizh itu untuk terus mengembangkan semakin banyak rumah tahfizh di daerah masing-masing sampai mimpi mendirikan rumah tahfizh di setiap tikungan se-Indonesia dan lima benua.

“Kecintaan terhadap Al-Qur’an telah menghadirkan pergerakan rumah tahfizh di Indonesia maupun belahan dunia lainnya. Semoga dakwah tahfizhul Qur’an bisa memberikan manfaat dan keberkahan bagi siapapun dan dimanapun rumah tahfizh beridiri,” tutur Anwar Sani.

Gelaran Rakornas 2018 ini dihadiri puia oleh Direktur Eksekutif PPPA Daarul Qur’an Tarmizi As Shidiq, Direktur RTC Solehuddin dan sejumlah jajaran direksi PPPA. Mereka turut memberikan motivasi guna memecut semangat para korda mendawamkan Qur’an di seluruh penjuru Nusantara.

 

UPDATE 7, Gelaran MHQ Nasional DAQU di Solo

Satu per satu santri-santri terbaik Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an dari seluruh Indonesia berdatangan di Solo, Jawa Tengah untuk mengikuti Musabaqah Hifzhil Qur’an (MHQ) Nasional Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an ke-VII yang berlangsung di gedung Pesantren Daarul Qur'an Putra dan Putri Desa Colomadu, Karanganyar, Jawa Tengah pada 17-19 November 2018. Inilah momen acara tahunan yang paling dinanti bagi para santri penghafal Qur’an binaan Daarul Qur'an.

Antusiasme peserta memuncak setelah prosesi pembukaan acara oleh KH Yusuf Mansur pada Sabtu (17/11) lalu. Acara ini dibarengi dengan penyerahan hibah  Bank Indonesia (BI) wilayah Surakarta berupa satu unit mobil Toyota Innova untuk operasional pesantren. Selain itu, saat ini juga sedang dilakukan proses kerjasmaa pengadaan Laboratorium Komputer dan Bahasa untuk Pesantren Daarul Qur'an Soloraya.

Acara yang dikemas dalam 17 kategori lomba ini diikuti  247 santri dan berlangsung hingga Senin (19/11). Satu per satu rangkaian perlombaan mulai terlaksana. Wajah-wajah santri tahfizh Qur’an silih berganti menaiki panggung perlombaan menghadap para dewan juri. Santri-santri lain pun saling memberikan dukungan sembari bermuraja’ah menyiapkan penampilan terbaiknya nanti.

Ustadzah Nunung, salah satu pengajar Shighor Putri Ketapang, Tangerang mengaku bahwa gelaran MHQ Daarul Qur'an ini menjadi acara yang ditunggu dan salah satu bahan motivasi terbesar untuk menguatkan hafalan santri. Ikhtiarnya dalam menampilkan santri binaan terbaiknya, beliau harus mengadakan proses karantina dalam satu bulan belakangan. Salah satunya ialah Athiya Zahratussita (11) Juara 1 kategori MHQ 5 juz yang menjadi perhatian utama beliau. Materi hafalan dan sikap percaya diri di atas panggung harus dibentuk hingga Athiya memberanikan diri untuk tampil di panggung bergengsi ini.

Rangkaian acara MHQ Nasional ke-VII ditutup  Ustad Muhammad Anwar Sani, pada Senin (19/11) di Gedung Ismail Pesantren Tahfizh Daarul Qur'an Surakarta. Senyum kemenangan kembali terurai bersama dengan pemberian piala penghargaan bagi pemenang lomba untuk setiap kategori. Semoga dimensi dakwah, kompetisi, dan silaturrahim selanjutnya berkiprah di MHQ Daarul Qur'an tingkat internasional pada tahun-tahun mendatang. Aamiin.

 

UPDATE 6, Menghafal Qur'an dalam Keterbatasan

Sa'adah (48) adalah seorang wanita tunanetra yang kuat. Kekurangan fisik yang dimilikinya, tak menyurutkan Sa’adah untuk menghafal Alqur’an. Kini hafalannya sudah 5 juz. Setiap Rabu, ia membacakan hafalannya di Rumah Tahfizh Nurul Qolbi 2 Tajur, Bogor.

Bu Adah sapaan akrabnya, tak pernah mengeluh menjalani kehidupan. Suaminya hanya pengrajin anyaman bambu yang di zaman milenial ini sudah tak lagi selaris dulu. Ibu dua anak itu ikhlas menerima apapun yang Allah berikan kepadanya.

“Bu Adah harus menempuh perjalanan jauh dari Parung Kuda (Sukabumi) untuk menghafal Alqur’an di Nurul Qolbi. Subhannallah,” ujar Kepala Cabang PPPA Daarul Qur’an Bogor, Diki Alaudin. 

Semangat Bu Adah begitu kuat untuk belajar dan menghafal Alqur’an meskipun dalam keterbatasan. Bersama puluhan penyandang tunanetra lainnya dari berbagai wilayah di Bogor, Depok, Jakarta dan Sukabumi, mereka rutin berkumpul dan mengaji di Rumah Tahfizh Nurul Qolbi 2.

Sudah enam tahun Rumah Tahfizh Nurul Qolbi 2 berdiri dengan fasilitas seadanya. Saat ini, sudah 36 santri tunanetra yang belajar dan menghafal di sana. Kapasitas rumah tahfizh yang hanya rumah petakan memang sudah tak bisa menampung para santri.

“Karena itu PPPA Daarul Qur’an mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk memberikan ruang kelas yang layak untuk santri-santri tunanetra ini punya ruang kelas yang layak dengan klik sedekahonline.com,” ucap Diki.

 

UPDATE 5, Grha Tahfidz Daarul Qur'an Sebagai Akses Publik Umat

Respon masyarakat sangat tinggi pasca pengumuman dibukanya pendaftaran santri Grha Tahfidz Daarul Qur’an Yogyakarta. Grha ini merupakan program mengembangkan sentra-sentra tahfidz di lingkungan masyarakat, komunitas, lembaga pendidikan, perusahaan dan instansi. Tujuan dasarnya ialah membibit dan mencetak para penghafal Al Qur'an dari kalangan masyarakat yang mengedapankan Al Qur’an dan Assunah. Adapun rincian program yang dibuka memuat Tahfizh, Tafsir Qur’an, Tahsin, Bahasa Arab, Akidah Akhlaq, Fiqh dan Sirah Nabawiyyah.

Dalam jangka waktu sepekan setalah launcing, jumlah calon santri yang mendaftar membludak. Hingga akhir penutupan pendaftaran, jumlah calon santri yang tertarik untuk mengikuti program Grha Tahfidz Daarul Qur'an sebanyak 500 orang. Hal inilah yang menjadi pertimbangan utama untuk melakukanan proses seleksi santri. Dari jumlah tersebut, santri yang ditetapkan diterima sebanyak 300 santri. Merekalah yang hampir setiap Senin hingga Sabtu berikhtiar menjemput hidayah Qur’an.

Salah satunya ialah Indi Fayruz Kamila (10 tahun), putri kelahiran Pemantang yang masih duduk di bangku kelas IV sekolah dasar ini ingin menjadi hafidzah. Belajar bersama santri lain yang umurnya di atasnya sama sekali tidak menyurutkan semangat menghafalnya. Orang tuanya mengaku, jika anaknya merasa senang belajar di Grha Tahfidz Daarul Qur’an. Bacaan Qur’annya pun semakin baik dan semakin rajin menghafal surat-surat pendek. Metode pembelajaran yang diterapkan sangat cocok untuk dia yang sifatnya ingin diperhatikan dan didengarkan.

Ada pula Hidayat, remaja asal Sulawesi Tenggara yang saat ini menjadi mahasiswa di UIN Sunan Kalijaga juga merakasan nikmatnya belajar di Grha Tahfidz. Baginya hidup adalah proses menuju keridhoan Allah SWT dengan menjalankan perintah-Nya. Termasuk perintah membaca dan menghafal Alqur’an. Hidayat merasa bersyukur dipertemukan dengan Grha Tahfidz sebagai sarana menjemput ridho Allah SWT yang insyaAllah akan bernilai ibadah. Setelah bergabun, ia merasa bacaan dan hafalan Qur’annya membaik. Baginya Al Qur’an adalah kebaikan yang harus diutamakan dibandingkan yang lain. Dengan demikian aktifitasnya di Grha Tahfidz sama sekali tak mengganggu kesibukkannya sebagai mahasiswa.

Melihat antusias dan respon masyarakat yang bertambah setiap bulannya, kini Grha Tahfidz menjadi akses publik yang mudah untuk mendalami ilmu Alqur’an. Masyarakat yang tidak sempat mengenyam pendidikan di pondok pesantren, saat ini dapat belajar secara langsung dengan pengajar Grha Tahfidz Daarul Qur’an dari Assatidz dan Assatidzah Rumah Tahfidz, Mahasiswa penerima Beasiswa Tahfidz Qur’an (BTQ), Assatidz PPPA Daarul Qur’an dan para ustadz yang konsen di bidang keilmuannya.

Semoga program Grha Tahfidz Daarul Qur’an senantiasa sukses dalam memberikan layanan pembibitan Al Qur’an. Sehingga PPPA Daarul Qur’an dapat membuka Grha Tahfidz 2 hingga seterusnya. Aamiin.

 

UPDATE 4, Ujian Santri dan Nasihat KH Yusuf Mansur

Grha Tahfizh Daarul Qur’an Yogyakarta adalah tempat diadakannya ujian rutinan Rumah Tahfizh Yogyakarta. Sebanyak 131 santri perkatagori 2, 5, 10, 15, 20, 25 dan 30 juz mengikuti ujian pada 10-18 September 2018. Berbagai Rumah Tahfizh mandiri maupun mitra mengirimkan santriwan dan santriwati terbaiknya.

Ujian rutinan itu diawasi oleh Koordinator Daerah (Korda) Rumah Tahfizh wilayah Yogyakarta dan diuji oleh Assatidz/Assatidzah. Kegiatan ini bertujuan mengingatkan kualitas hafalan para santri. Adapun metode ujian yang dipakai adalah santri menyetorkan hafalan  full per juznya dengan klasifikasi juz yang berurutan maupun secara acak. Secara lebih luas tujuan ujian rutinan ini, untuk mempersiapkan semua santri dalam menghadapi ujian rutinan seperti Wisuda Rumah Tahfizh dan WTN (Wisdua Tahfizh Nasional).

“Alhamdulilah, dengan diadakan ujian rutinan ini Rumah Tahfizh yang jarang mengirimkan santrinya pada kegiatan Rumah Tahfizh, jadi lebih tergerak dan termotivasi. Bahkan jarak tidak menjadi kendala Rumah Tahfizh yang jauh dari lokasi ujian,” tutur Korda Rumah Tahfizh Yogyakarta.

Pada pertengahan ujian, Rabu (12/9) Grha Tahfizh Daarul Qur’an Yogyakarta dikunjungi KH Yusuf Mansur. Ruangan yang tadinya riuh dengan bacaan Qur’an terhenti sejenak untuk memberi salam dan berkhidmat dengan Sang Guru.

Rasa haru dan takjub ketika KH Yusuf langsung ingin menyimak ujian santri dari Rumah Tahfizh Qurrotaa’yun. Sedikit grogi, santri yang bernama Udin bergetar suaranya ketika KH Yusuf duduk didepannya dan membenarkan hafalannya yang salah. Udin menundukan kepala dan tertatih karena gugup menyetorkan hafalannya. Pun dengan Nadia dan Andri yang di tes secara langsung oleh KH Yusuf Mansur dengan menyebutkan nomor surat, nomor ayat, membaca secara mundur dan kelipatan bacaan perlembarnya.

Subhanallah, ketiga santri itu mampu menyelesaikan tantangan dari KH Yusuf dan dinyatakan lulus ujian. “Cara ngapalin Qur’an jangan pake cara lama, kalo gitu cepet ilang. Coba ngafalin Qur’an dengan ngajak tangan untuk menulis, mata untuk melihat dan dipahami setiap maknanya, itu lebih mantab dan ngga cepet hilang,” nasihat KH Yusuf.

Setelah ujian rutinan ini selesai. Manager cabang PPPA Daarul Qur’an Yogyakarta, Korda maupun para Assatidz dan Assatidzah sepakat untuk meruntinkan ujian per tiga bulan sekali. Agar peningkatan kualiats hafalan terjaga dan evaluasi kegiatan rumah Tahfizh dapat dikembangkan. Bismillah semoga ujian santri menjadi wasilah keberkahan Allah dan peningkatan hafalan para santrinya. Aamiin.

 

UPDATE 3, Mengukuhkan Semangat Para  Pejuang Rumah Tahfizh

PPPA Daarul Qur’an menggelar Halal Bi Halal pengurus rumah tahfizh se-Jakarta, Depok, Bogor dan Karawang (Jadebeka) di Kampung Qur’an Al Fithroh Indonesia, Serang, Banten, pada Minggu (22/7). Mereka yang jadi peserta adalah puluhan guru-guru tahfizh yang berjuang mendirikan rumah-rumah tahfizh di wilayah Jadebeka.

Turut hadir Direktur Utama PPPA Daarul Qur’an Muhammad Anwar Sani, Direktur Rumah Tahfizh Center (RTC) Solehuddin, Koordinator Daerah Rumah Tahfizh Jadebeka Suryadi Zaini dan Ketua Yayasan Al Fithroh Indonesia Fitri Azriyani. Dalam gelaran tersebut Anwar Sani sempat memberikan motivasi untuk para pejuang rumah-rumah tahfizh.


Sumber : Dokumentasi saat halal bi halal Rumah tahfizh seluruh indonesia

Menurut Ustad Sani sapaan akrabnya, dakwah tak melulu harus berada di zona nyaman.  Ia mengatakan, derajat kemuliaan akan berbeda antara orang yang berbuat baik untuk diri sendiri dengan yang menebar kebaikan.  Karenanya, ia meminta seluruh pengurus rumah tahfizh se-Jadebeka untuk terus berjuang  menjadi yang bermanfaat untuk umat dengan mengembangkan rumah tahfizh sampai akhirnya berdiri di setiap belokan.

 “Muhammad sebelum menjadi Rasul adalah orang baik yang dicintai masyarakat. Namun saat Allah mengutus sebagai Nabi, mulai ada musuhnya bahkan sampai harus hijrah ke Madinah.Tapi itu perjuangan. Ada sedihnya, ada nggak enaknya, ada beratnya, ada pengorbanannya. Semoga Allah luruskan niat dan perjuangan kita semua,” ujarnya.

Dalam Halal Bi Halal yang berlangsung khidmat tersebut, Ustad Sani juga memberikan surat penetapan rumah-rumah tahfizh yang telah berdiri di Jadebeka kepada Ustad Suryadi. Saat ini sudah ada 70 rumah tahfizh dengan 5000 santri di Jadebeka.

“Semoga santri-santri kami semangat berjuang menjadi penghafal Qur’an 30 juz dan semakin banyak rumah-rumah tahfizh yang bemunculan demi mewujudkan mimpi membangun dunia dengan Al Qur’an,” harap Ustad Suryadi.

 

UPDATE 2, Impian Daarul Qur'an Bersama Pemuda Pembangkit Peradaban

Selalu ada inisiatif dari pemuda Indonesia, seperti yang dilakukan Organisasi Santri Internasional atau kerap disebut OSI. Organisasi ini adalah arena juang bagi alumni santri Indonesia yang kini menjadi pelajar atau mahasiswa di luar negeri.

Sebagian orang mungkin berpendapat bahwa keluar dari pesantren berarti keluar dari segalanya. Bagi mereka, lulusan pesantren justru menjadi penyemangat untuk menebar kebaikan.

PPPA Daarul Qur'an pun berkesempatan mengundang OSI untuk silaturrahim sekaligus berdiskusi membangkitkan pergerakan dakwah di mancanegara pada Ahad, (22/7) di kampus STMIK Antar Bangsa, Tangerang. Acara ini turut dihadiri Direktur Utama PPPA Daarul Qur’an Muhammad Anwar Sani dan Direktur Rumah Tahfizh Center (RTC) Sholehuddin.

Anwar Sani memotivasi belasan anak muda itu agar menjadi pelayan masyarakat. Salah satunya dengan membangun rumah tahfizh di masing-masing negara.

Mengingat, setidaknya ada 11 negara yang terdaftar di OSI. Negara-negara tersebut adalah Turki, Prancis, Jerman, Rusia, Maroko, Arab Saudi, Flipina, Sudan, Lebanon, Mesir dan Malaysia.

"Kami dari Daarul Qur'an terbuka lebar kesempatan untuk bersinergi dengan OSI, sebagai upaya mengembangkan dakwah Qur'an. Namanya terserah, tapi kalau bareng dengan Daarul Qur'an ya kita namakan rumah tahfizh," tutur Ustad Sani sapaan akrabnya.

Ia menyampaikan, yang terpenting adalah mencoba terlebih dahulu, serahkan kepada Allah. Para anggota OSI pun diberikan tantangan untuk langsung terjun menjadi pengajar di rumah tahfizh yang mereka bina.

Tidak hanya itu, dalam diskusi hangat tersebut tercetus pula rencana untuk mengadakan wisuda akbar di negara-negara terkait. Hal tersebut dibenarkan pula oleh Ketua OSI, Aswar Anas (22).

“InsyaAllah kita akan bangun rumah tahfizh di Eropa, di Prancis, Jerman, Rusia. Pengajarnya nanti teman-teman dari OSI sendiri. Kemudian sinergi yang lain diantaranya program santri membangun hingga rencana wisuda akbar di sana,” ujar Pemuda asal Sulawesi Tenggara itu.

Setelah acara ini, Aswar bersama kawan-kawannya akan melanjutkan perjalanan ke Kalimantan untuk mengadakan seminar internasional. Masa libur yang masih tersisa ini dimanfaatkan OSI untuk berkeliling Indonesia dalam upaya dakwah di tanah air.



UPDATE 1, Mencari Berkah Ramadan Ala Syeikh Abdul Aziz

Sudah hampir dua pekan Syeikh Abdul Aziz yang merupakan putra Imam Masjidil Haram Syeikh Bandar Balilah berada di Indonesia. Kehadirannya bersama Muadzin Masjid Hasan Syathoh Madinah Munawarrhoh Syeikh Osamah Muhammad Ramzan memang dalam rangka safari Ramadan 1439 H.

Di sela-sela kegiatannya yang padat, ia pun menyempatkan berbagi kisi-kisi agar mendapatkan pahala di bulan Ramadan. Menurutnya, keberkahan Ramadan akan didapat seseorang jika ia memuliakan ahli Qur’an. Menurutnya, memuliakan Alqur’an berarti memuliakan Allah..


Sumber : Dokumentasi Syeikh Abdul Aziz menjadi imam di pesantren Daarul Qur'an Ketapang

"Sebab ada banyak pahala jika para penghafal Alqur’an membaca, mengajarkan dan mentadaburinya. Dan pahala itu juga akan mengalir kepada siapapun yang memfasilitasi dakwah para penghafal Alqur’an," ujar Syeikh Abdul Aziz.

Imam Masjid Jami Al Hakim Makkah Al Mukarramah itu pun mengapresiasi gerakan tahfizhul Qur’an di Indonesia. Ia kagum dengan geliat anak-anak menghafal Alqur’an khususnya para santri yang tinggal di asrama atau pesantren-pesanten berpisah dengan keluarga hanya untuk mewujudkan impian menjadi seorang hafizh/hafizah.

"Subhanallah semangat anak-anak di sini luar biasa sekali. Di Arab Saudi asrama atau pesantren untuk para penghafal Alqur’an tidak menjamur seperti di Indonesia. Saya berharap gerakan tahfizhul Qur’an di Indonesia semakin berkembang. Para santrinya bukan hanya menghafal Alqur’an tapi juga memahaminya," tutur Syeikh Abdul Aziz.

Dalam safari Ramadannya, Syeikh Abdul Aziz dan Syeikh Osamah telah berkunjung ke beberapa kota di Indonesia untuk menjadi imam salat Isya dan Tarawih serta berbagi motivasi Qur’an untuk masyarakat se-Nusantara. Setelah mengunjungi Yogyakarta, Solo, Surabaya dan Makassar, mereka akan melanjutkan perjalanan ke Bogor dan Bandung. Keduanya dijadwalkan kembali ke Jeddah pada Sabtu (26/5).

200.000

Rinda
23 July 18


200.000

Rinda
23 July 18


2.924.500

UKKI UNNES
14 May 18


100.000

Fahirani Gunawan
10 June 18

Semoga dapat menghafal 30 juz Al Qur'an sebelum uaia 25 tahun. Semoga orang tua dan keluarga diberikan kesehatan,umur yang panjang dan rezeki yang berkah


50.000

20 May 18

Doakan saya ingin menjadi hafidzah


TAMPILKAN DONATUR LAINNYA

SHARE