Dakwah Kader Tahfidz Qur'an

Oleh: Daarul Qur'an ( Admin Daarul Qur'an)

Update, Menanti Syamsiah Mutiara dari Timor, Bapak paruh baya itu mengusap bulir peluh di kerut muka yang semakin menua. Ia tak menyangka,

21.83%
Rp. 10.914.017
34
0 Hari lagi
SHARE

 


(Sumber : Dokumentasi PPPA Daarul Qur'an perjuangan Nyimas dakwah dipulau tunda)

Nyimas tak pernah menyangka akan melalui episode kehidupan di Pulau Tunda. Pulau yang baru pertama kali ia dengar. Pasca karantina Program Kader Tahfizh Daarul Qur'an, Nyimas ditugaskan membina masyarakat Pulau Tunda selama satu tahun.

Nyimas si Gadis asal Palembang, perawakan kecil dan lincah. Lulus dari Ilmu Keperawatan Universitas Sriwijaya, ia lantas melanglang buana sebagai relawan medis di berbagai medan. Mulai ekspedisi khatulistiwa bersama TNI sampai ke daerah bencana dengan lembaga kemanusiaan.


(Sumber : Dokumentasi PPPA Daarul Qur'an Perjuangan kader tahfidz)

“Ini tantangan baru, sebagai Dai di pulau kecil,” ujar Nyimas.

Pulau Tunda terletak di Laut Jawa berbatasan dengan Selat Sunda. Secara administratif berada di wilayah Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang, Banten. Pulau eksotik yang terkenal dengan alam bawah laut ini dapat ditempuh dengan kapal penumpang selama tiga jam dari pelabuhan Karangantu, Serang, Banten.

Nyimas bertekad menghidupkan rumah tahfizh untuk membina anak-anak di Pulau Tunda. Selain itu, antusias warga belajar Islam yang besar, Nyimas pun terlibat dalam majelis taklim pekanan. Dakwah door to door menjadi andalannya untuk membangun komunikasi dengan warga.

“Semoga memberikan perubahan positif dan mengakselerasi warga belajar Al Quran,” tambah Nyimas.

PPPA Daarul Qur'an terus berupaya mengembangkan dakwah Qur’an sampai ke pelosok Nusantara. Program-program untuk melahirkan semakin banyak generasi tahfizhul Qur’an terus digulirkan seperti pendirian rumah-rumah tahfizh dan kampung Qur’an.

“Diharapkan program ini mengakselerasi dakwah Daarul Qur’an yang terus bergulir baik di Indonesia maupun di seluruh dunia,” ujar Manager Program PPPA Daarul Qur’an, 

Untuk Mendukung Program ini Caranya :

1. Klik tombol "SEDEKAH SEKARANG"
2. Pilih "NOMINAL" dengan klik "Tanda Panah Bawah" dan Sertakan Doa.
3. Isi Biodata di kolom yang tersedia dan "Klik Lanjut"
4. Pilih metode pembayaran (Tersedia Bank BCA/BRI/Mandiri/BNI Syariah/Virtual Account(BNI)) atau jika sudah melakukan login bisa menikmati fasilitas "Komitmen Sedekah"
5. Silahkan transfer sesuai dengan invoice yang sudah disertakan kode unik yang sudah dikirim melalui email.
6. Dapatkan laporan via email dan pastikan email Daarul Qur'an berada di kotak masuk/primary Anda. Jika mengalami kesulitan bisa mengirimkan pesan kepada kami.

Update 3, Mimpi Gadis Pengangon Kambing

Gadis berkacamata itu lantang berbicara di depan teman-temannya. Suaranya memecah hening, matanya menembus gelapnya malam. Ia menjadi orang pertama yang berdiri dan berani untuk memulai sesi materi dalam acara Jambore dan Pendadaran Kader Tahfizh angkatan II di Pulau Tunda, Jum’at (13/4).

Namanya Uswatun Ainiyah, mahasiswi asal Cirebon ini adalah salah satu kader Beasiswa Tahfizh Qur'an (BTQ) for Leaders yang tengah mengikuti pendadaran. Meskipun berasal dari salah satu kampung terpencil di Cirebon, kampung yang minim sekali daya minat dan perhatiannya terhadap pendidikan, Uswah sapaan akrabnya, mempunyai mimpi yang besar. Dulu saat bersekolah, Uswah mengaku hanya memakai sandal jepit dan membawa kantong kresek saat bersekolah.

“Saya merupakan orang pertama di kampung saya yang mau bersekolah dan mau berkuliah. Dari semua keterbatasan ekonomi dan dukungan keluarga yang sedikit sekali, saya tetap berjuang, saya tetap yakin untuk kuliah,” ucapnya.

Mimpi tersebut berawal saat dirinya membantu orang tuanya beternak kambing. ”Dulu saya pernah ngangon kambing, ibu saya pernah punya beberapa kambing. Kemudian saya melihat ada orang kampanye. Loh itu orang kok bisa gitu? Saya kok malah di sawah ngangon kambing,” ujarnya dengan heran.

Dari situlah Uswah termotivasi untuk kuliah dan menjadi orang besar. Atas saran sang guru, Uswah memutuskan keluar dari kampungnya dan melanjutkan jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) di Indramayu. Selama SMA, ia menjadi tukang memasak di sebuah pesantren.

Saat mulai memasuki dunia perkuliahan, Uswah memutuskan untuk merantau dan mencari kampus sendiri. Ia harus meyakinkan kedua orang tuanya kalau ia bisa. Hingga akhirnya kini, ia diterima sebagai mahasiswi dengan Jurusan Ilmu Hukum di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sekaligus mendapatkan BTQ for Leaders dari PPPA Daarul Qur’an.

“Bapak berkata kalau saya ingin kuliah saya harus berjuang sendiri, karena kuliah tidak cuma modal nekat. Saya browsing-browsing untuk mencari informasi kuliahan dan beasiswa. Hingga saya harus pergi sendiri untuk mengikuti tes seleksi ke UIN Bandung, saya bingung naik apa,” ujarnya.

Uswah adalah salah satu kader BTQ for Leaders yang diharapkan mampu menjadi pemimpin masa depan berjiwa Qur’ani yang membawa perubahan. Seluruh masyarakat, jemaah dan donatur bisa mendukung langkah Uswah dan ratusan santri BTQ lainnya dengan ikut Gerakan Sedekah Nasional (Gersena) yang jatuh setiap 27 April.

Sebab tahun ini, perolehan Sedekah Nasional akan diberikan kepada 30 ribu santri penghafal Al Quran di rumah-rumah tahfizh, pesantren dan para mahasiswa-mahasiswi dari kampus-kampus ternama di seluruh Indonesia melalui program Beasiswa Tahfizh Qur’an (BTQ).

 

Update 2, Langkah Kader Tahfizh ke Pulau Tunda

“Banguuun banguuun… Tronton sudah datang..”

Begitulah suara Ustazah Tia membangunkan kader-kader Beasiswa Tahfizh Qur’an (BTQ) for Leaders yang hendak pergi ke Pulau Tunda, Banten. Pagi itu, Jum’at (13/4), pukul 02.30 WIB seluruh peserta yang sudah berkumpul di Rumah Tahfizh Bintaro akan mengikuti kegiatan Jambore dan Pendadaran di Pulau Tunda.

Perjalanan dini hari, membuat rasa kantuk tak tertahankan. Langit masih gelap, tapi 23 peserta melanjutkan perjalanan dari Bintaro ke Pelabuhan Karangantu, Banten. Dinginnya embun pagi yang masuk dari sela-sela jendela Tronton menyelimuti dua jam perjalanan mereka.


(Sumber : Dokumentasi Kader Tahfizh Jambore di Pulau Tunda)

Tepat pukul 07.00 WIB, seluruh peserta dan panitia menyebrang ke Pulau Tunda dengan menggunakan kapal. Sementara sebanyak 29 kader yang berangkat dari Jawa Timur dan Jawa Tengah baru berangkat menyusul ke Pulau Tunda pada pukul 10.00 WIB.

Rasa kantuk dan panasnya terik matahari menyelimuti perjalanan para kader selama dua setengah jam di atas kapal. Sesampainya di Pulau Tunda, para kader masih harus berjalan setengah jam lagi untuk menuju tempat camp di Pantai Timur.

(Sumber : Dokumentasi Kader Tahfizh Jambore di Pulau Tunda)

Raut wajah lelah tampak menghiasi perjalanan peserta. Namun hal tersebut tak menyurutkan langkah mereka untuk mengikuti pendadaran, membahas masa depan Indonesia. Bahkan beberapa kadar sempat membaca dan menghafal Al Quran di sela-sela kegiatan. Subhanallah.
“Semua itu terobati karena bertemu dengan teman-teman se-Indonesia dan punya keinginan yang sama untuk membangun Indonesia,” ucap kader yang memakai kaos merah itu. 

Jambore dan pendadaran kader BTQ for Leaders bukan sekedar kemah. Selama tiga hari 13-15 April, para kader di latih memiliki jiwa kepemimpinan dan jadi petarung-petarung tangguh di masa depan yang bisa merawat dan melakukan perubahan untuk Indonesia.

 

Update 1, Menanti Syamsiah Mutiara dari Timor

Bapak paruh baya itu mengusap bulir peluh di kerut muka yang semakin menua. Ia tak menyangka, tim PPPA Daarul Qur’an datang menyapa pagi itu (26/3). Memang, jam masih menunjukkan pukul 08.30 WITA, namun terik matahari seakan memanggang kulit hitam Tahir Busi, bapak tua yang sibuk dengan jagung dan goloknya.

Tahir Busi (54) hidup bersama istri dan bayi mungilnya. Omakebubu (rumah bulat dari jerami) di tengah kebun jagung itu menjadi saksi perjalanan hidup keluarganya. Termasuk melahirkan dan membesarkan Syamsiah, anaknya yang paling tua.


(Dokumentasi : PPPA Daarul Qur'an)

“Pekan lalu, kami tengok Syamsiah di Pesantren,”  tutur Jahidin, tim PPPA Daarul Qur’an.

Saat ini, Syamsiah menjalani pendidikan intensif di Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an Takhassus, Cikarang–Bekasi. Syamsiah adalah bagian dari penyiapan kader lokal untuk keberlangasungan dakwah dan pembinaan masyarakat pelosok Nusa Tenggara Timur (NTT).

Perkembangan dakwah di Dusun Oe Ue, Amanuban Timur, Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT ini luar biasa. Geliat masyarakat belajar Islam, anak-anak yang mulai rajin ke rumah tahfizh mengalami perkembangan yang menggembirakan. Sehingga, penyiapan kader dakwah asli dari Oe Ue merupakan keharusan.

Alhamdulillah, Syamsiah telah selesai menghafal 30 Juz,” tambah Jahidin.


(Dokumentasi : Santri Kader Tahfidz PPPA Daarul Qur'an)

Bapak tua dengan sebilah golok itu sulit menyatakan perasaannya. Ia seakan tak mengerti mengapa Syamsiah bisa secepat itu. Memang, sejak lahir Syamsiah hidup dalam kemiskinan dan ketidakberdayaan. Namun, karena kegigihannyalah Syamsiah mampu menaklukan ketakutan hingga merantau ke pulau Jawa.

Syamsiah yang dibesarkan dalam keterbatasan itu kini dinanti banyak orang. Berita prestasinya jadi buah bibir, menyebar hingga ke kampung tetangga. Syamsiah menjadi contoh, bahwa anak pelosok pun mampu tampil menjadi “mutiara” dengan bekal kegigihan menghafal Al Qur’an.

Rp. 600.000

Majelis Ta'lim Miftahul Jannah
27 April 18

semoga diberikan kesehatan kelancaran rezeki dan terkabul segala hajat


Rp. 500.000

Akbar
18 April 18


Rp. 500.000

Ary Kurniawati
18 April 18


Rp. 100.000

Euis Suwandi
09 April 18


Rp. 200.000

Hamba Allah
30 April 18

Semoga Bermanfaat


TAMPILKAN DONATUR LAINNYA

SHARE