Dakwah 1000 Guru Qur'an di Pelosok Negeri

Oleh: Daarul Qur'an ( Admin Daarul Qur'an)

Keluarga Pejuang Qur'an dari Madiun, Ada kesetiaan pada jalan Qur’an yang ditempuh satu keluarga ini

3.95%
Rp. 986.725
8
14 Hari lagi
SHARE

 

Enam kali berpindah tempat menjadi satu-satunya pilihan Ustadzah Aminah (47) dan keluarganya. Keputusan hijrah dari kota kelahirannya, di Bangkalan Madura, pasca kepergian mendiang suaminya seolah membuka halaman derita kehidupan keluarga Aminah di Madiun. Pengusiran dari satu kontrakan ke kontrakan lainnya dialami Aminah dan kedua anaknya sejak 1996 hingga 2017. Air matanya hari ini tidak lagi menetes atas peristiwa perpindahan, bahunya sudah terlalu kokoh hingga menurun pada semangat dua anaknya yang ikut mewakafkan diri untuk syiar Qur’an di satu daerah yang beriwayat pada pemberontakan pada kaum agamis pada kisaran 1948.

Ada kesetiaan pada jalan Qur’an yang ditempuh satu keluarga ini. Juga berlinang doa dalam gerak sunyi syiar Qur’an di 500 meter sebelah utara stasiun Caruban. Bagaimana tidak, seluruh beban hidupnya ditopang dengan adonan krupuk terigu dan kanji yang dititipkan ke warung tetangga. Keuntungan dua puluh ribu rupiah per minggu yang belum tentu mereka dapat pun tidak mengurangi rasa cintanya kepada Alqur’an sedikitpun. “Saya kasihan melihat anak-anak warga tidak mengenal agama karena orang tuanya abangan,” terang Ustazah Aminah, suara beratnya pada malam takbiran (21/8) lalu membuka mata berat tim PPPA Daarul Qur’an yang berkunjung.

Perilaku abangan masyarakat perlahan memudar, masa peralihan untuk ikhtiar taat pun belum sepenuhnya sempurna, sepertinya tidak ada lagi yang bisa diwariskan para orang tua untuk anak cucunya kelak selain pesatnya laju informasi dan modernitas yang minim adab dan akhlak. Alasan menyayat hati Ustazah Aminah sehingga memutuskan hidupnya dan keluarga hanya untuk berdakwah. Sejak 1996, hafalan Alqur’an 150 santri berjalan dalam keistiqomahan keluarga Aminah di bawah TPA Hidayatul Muhibbin. Perubahan status janda ibu dua anak ini tidak menuyurutkan dakwahnya sejak tahun 2007.

Keterbatasan yang dihadapi keluarga Aminah justru menjadi wasilah, anaknya Ustad Imam dan Ustadzah Mahmudah telah menamatkan pendidikannya dari Pondok Pesantren Tambak Beras di Jombang. Hingga saat ini keduannya selalu mendampingi sang ibu dalam mengajarkan hafalan santri di rumah, yang lagi-lagi masih kontrakan. Ustad Ziyad, suami Ustazah Mahudah, pun juga turut andil dalam mengurus ratusan santri. Sungguh barisan dakwah keluarga ini sangat rapih.

Faza (1) cucu Aminah dari pasangan Ustadz Ziyad dan Ustadzah Mahmudah menjadi saksi keras perjalanan keluarga pejuang Qur’an ini. Selama dalam kandungan Ustadzah Mahmudah, Faza ikut empat kali berpindah kontrakan. Setelah lahir, belum genap dua bulan usianya, Faza menyaksikan pengusiran kasar dari sang pemilik kontrakan. Rupanya pemilik rumah tempat pembibitan ratusan cahaya Qur’an ini mengingkari janji hibah hak gunanya. Ancaman pidana dan bentakan kasar dilontarkan di antara bacaan Qur’an puluhan santri. Seketika bacaan Qur’an pun terdiam, mencekam. Pengusiran paksa sore itu membekas keras, rumah pengusiran itu kini menjelma ruko megah dua lantai.

“Selama masih memperjuangkan Qur’an, saya yakin suatu saat Allah pasti memutar roda kehidupan kami,” ringkas Ustad Imam, anak pertama Aminah, menutup luka dengan persangkaan yang baik. Senyumnya selalu lebar, sejak pertama ia membukakan pagar di malam tim PPPA sampai di sebuah kontrakan dekat Masjid Al Arifiyah, masjid tertua di Caruban.

Semangat keempat pengajar Qur’an ini bagai jajaran pejuang yang searah yakin atas keagungan Allah SWT. Harapan besar atas segala cobaan, mereka yakini akan segera berakhir tanpa mengurangi ketauhidan kepada Sang Maha Kuasa. Amalan lantunan surah Al Waqiah bersama para santri selama 40 hari dengan pamrih segera mendapat tempat tetap untuk mengaji. Dalam gagasan dan bayangan satu keluarga ini rupanya hanya ada tiga azam, yakni mengaji, mengaji, dan mengaji.

Satu masa terlewati. Himpitan keadaan memaksa keluarga ini menerima tawaran warga untuk menempati rumah kosong tak layak. Satu ruang ukuran 4x5 meter ini berdinding kayu sisa kunyahan rayap tidak lagi tegap berdiri. Lubang sela bawah satu-satunya pintu menjadi jalan tikus-tikus got besar pinggir jalan, juga angin malam untuk masuk. Air hujan mengguyur ruangan dari atas dan jalanan setinggi mata kaki sudah biasa mereka nikmati bersama goyangan angin di atap rumah. Hebatnya, aktivitas mengaji para santri tetap berjalan di rumah bak kandang ternak ini. Kasur menjadi alas duduk santri, bantal tidur keluarga adalah sandaran mushaf saat mengaji.

Deraian musibah malah menguatkan keluarga Aminah dan para santri untuk senantiasa tegar mendawamkan Qur’an. Lantunan doa mereka mulai diijabah Allah SWT, lantaran program Simpatik Guru dari PPPA Daarul Qur’an sejak awal tahun 2017. Keluarga Qur’an ini menerima dukungan finansial rutin hingga sekarang. Kebutuhan harian untuk hidup mulai tertutupi.

Jawaban doa mereka mulai terjawab. Buah kesabaran di jalan dakwah diijabah oleh Allah SWT. Tawaran salah seorang warga Desa Krajan, Madiun dengan kontrakan layak huni di akhir 2017 menyambangi keluarga ini untuk satu tahun kedepan. Meskipun demikian, sholawat nabi selalu mereka lantunkan agar September esok ini tidak mengulang musibah pengusiran pada akhir masa kontrak. Semoga keluarga Ustazah Aminah beserta ratusan santrinya tetap menegakkan Qur’an dan senantiasa termasuk dalam orang-rorang yang dimuliakan Allah SWT. Aamiin.

 

Update 1, Ikhtiar Umi Rahma Beratas Buta Huruf Hijaiyah

Nyanyian beberapa ekor jangkrik terdengar nyaring dari petakan kolam ikan itu. Lampu-lampu jalanan pun mulai dipendarkan. Sedangkan, puluhan anak-anak yang sejak Magrib memenuhi masjid, kini beranjak merapat ke sebuah rumah kecil di ujung jalan sana.

Mereka masih mengenakan sarung, beberapa membawa tas ransel lengkap dengan alat tulis. Alas kaki dilepaskan dan mereka pun duduk bersila. Hanya dengan satu kalimat, Umi Rahma dapat menertibkan anak-anak yang sebelumnya bising itu.

Ya, wanita paruh baya itu akrab dipanggil Umi Rahma, ia adalah seorang pengajar di Taman Pendidikan Alqur'an (TPQ) Al-Ihsan. Lebih dari itu, Rahmania, nama lengkapnya, adalah satu-satunya pengajar di TPQ yang beralamat di Perumahan Villa Mellia, Rawakalong, Gunung Sindur, Bogor.

Hampir setiap hari ia mengajar anak-anak dari rentang usia SD hingga SMP. Materinya adalah Alqur'an hingga akidah. Tidak hanya anak-anak, bahkan orang tua pun rutin ia didik setiap pekannya. Mayoritas dari mereka adalah Ibu-ibu. "Saya mengajar memang karena suka. Sudah sejak zaman kuliah, saya sering diajak oleh kakak kelas untuk mengajar," ujar Umi Rahma.

Kini, mengajar sudah seperti pakaian sehari-hari baginya. Awal mendirikan TPQ pada 2012 lalu, hanya ada 3-5 anak yang belajar, termasuk anaknya yang paling bungsu. Lambat laun, anak didiknya pun bertambah hingga kini berjumlah sekitar 43 santri.

"Proses belajar mengajar dimulai bakda Magrib, anak-anak ke rumah. Biasanya, saking banyaknya santri, sampai harus menggelar tikar di depan rumah agar mereka tetap bisa belajar. Belum lagi kalau hujan, mereka harus bergegas masuk ke dalam rumah, meski jadi sedikit berdesakan," jelas wanita 41 tahun itu.

Berbeda dengan kelas Ibu-ibu, Umi Rahma biasanya berkeliling komplek  untuk menyesuaikan permintaan mereka. Mengingat, tempat belajar bersama ibu-ibu kadang berganti. Semua ikhtiarnya tersebut semata-mata karena ingin memberantas buta huruf hijaiyah, khususnya di tempatnya tinggal agar masyarakat dapat membaca Alqur'an, menghafal hingga mentadabburinya.

Umi Rahma tidak memberikan tarif untuk santrinya. Artinya, kelas belajar bersama Umi Rahma adalah gratis. Namun tetap saja ada beberapa warga yang berinisiatif untuk memberikannya bantuan, baik berupa uang maupun barang-barang seperti karpet dan lain-lain.

Umi Rahma adalah salah satu penerima bantuan Simpatik Guru yang digagas oleh PPPA Daarul Qur'an. Ia adalah satu dari ratusan pendakwah yang gigih mempertahankan nilai-nilai agama untuk dikenalkan kepada anak sejak usia dini.

20.000

Hamba Allah
09 November 18

Bismillahirrahmanirrahim... Allahumma shalli ala sayyidina muhammad... Semoga Allah SWT selalu memberikan kesehatan lahir dan batin, Rezeki berkah, kesuksesan, keselamatan, pertolongan, rahmat, meridhoi di dunia dan akhirat, dilindungi dari siksa api neraka, siksa kubur, fitnah kehidupan dan kematian serta fitnah dajjal... Semoga Allah SWT menjadikan kami ahli tahajud, dhuha, sedekah, sholat, zakat, dzikir, shalawat, puasa dan Al Quran... Semoga kami bisa haji dan umrah, beli rumah yang berkah dekat masjid, beli sepeda, sepeda motor dan mobil yang selalu digunakan untuk ibadah... Semoga saya dan keluarga mutasi kerja di surabaya sampai pensiun... Aamiin Ya Rabbal Alamin... Allahumma shalli ala sayyidina muhammad...


100.000

dian
31 October 18


50.000

dian
31 October 18

semoga dimudahkan dalam mendapatkan rezeki yg halal


62.000

Sandi Kurniawan
03 October 18

Semoga allah mengabulkan semua hajat" saya dan keluarga.. aminn


500.000

Irawaty Joyoatmojo
03 October 18

Semoga almarhumah Soebhakti binti Mangoensoedirdjo dan almarhum Siswoyo bin Djojoatmodjo, dijauhkan dari siksa api neraka.


TAMPILKAN DONATUR LAINNYA

SHARE