Bantuan Mushaf Quran Untuk Indonesia

Oleh: Daarul Qur'an ( Admin Daarul Qur'an)

Program Al-Qur’an untuk Indonesia akan memenuhi kekurangan Al-Qur’an tersebut. Mari bersama kita perangi buta Al-Qur’an di Indonesia. 

2.13%
Rp. 10.650.000
59
0 hari Lagi
SHARE

 

"Data BPS (Badan Pusat Statistik) 2015 mencatat sebanyak 54 persen umat islam di Indonesia buta membaca Al-Qur’an. Salah satu penyebab minimnya sebaran Al-Qur’an ke penjuru nusantara. Program Al-Qur’an untuk Indonesia akan memenuhi kekurangan Al-Qur’an tersebut. Mari bersama kita perangi buta Al-Qur’an di Indonesia"

Alhamdulillah, Sampai dengan tahun ini, PPPA Daarul Qur'an telah mendistribusikan 15.280 Qur'an Hafalan tersebar di 14 Provinsi di Indonesia.

Membangun Indonesia dengan Al-Qur'an berarti kita menghidupkan Al-Qur'an dalam diri kita dan keluarga. Dengan begitu, diri kita seperti Al-Qur'an berjalan.''Tidak ada kedengkian, tidak ada kebencian. Tidak ada permusuhan, tidak ada dusta, tidak ada kebohongan, tidak ada kecurangan dalam rumah tangga, dalam berbisnis, dan berniaga, sehingga kita benar-benar berjalan bersama Al-Qur'an.

Begitulah seharusnya masyarakat Indonesia, mulai dari pemimpinnya hingga seluruh rakyatnya menggelorakan semangat bersama Al-Qur'an. Bahkan seharusnya, membangun dunia dengan Al-Qur'an.

Karena dunia tidak mampu menjawab kegelisahnnya. Kita juga nggak tahu mau ke mana dan mau cari apa? Ada umur-umur manusia yang akan sampai ke situ. Orang yang sering ke Mall, suatu saat pasti akan jenuh dengan Mall.

Hal itu, sangat berbeda dengan kasih sayang Ilahiyah. karena, tidak akan ada kejenuhan di dalamnya. Karena itulah, dunia dan seisinya harus selalu bersama dengan Al-Qur'an, karena berasal dari Allah SWT.

Kasih sayang Ilahiyah, seperti halnya dengan kaki meja. Ketika, kaki meja terpisah dari mejanya, maka dia akan ke mana-mana, tidak karuan. Tapi begitu kaki meja ada di kaki meja, dia akan tenang.

Begitu pun manusia, sebagai makluk, jika tidak terpisah dari sang khaliq, maka manusia akan tenang. Di situlah pentingnya kita sebagai manusia senantiasa bersama Al-Qur'an.

Sekarang ini, manusia banyak yang ahli di bidang teknologi, bidang industri, memiliki kekayaan. Tapi, bila kita tanya, seakan-akan mereka tidak menemukan apa yang mereka cari. Al-Qur'an membuat hidup kita terarah, karena sesuai yang dikehendaki sang Khaliq.

Yoyoh, Bangkit dari Keterpurukan

 

Yoyoh Junariyah (38) kini tengah meneruskan perjuangan suaminya membangun peradaban Islam selepas orang yang paling ia cintai itu meninggalkannya. Sang suami, almarhum Sumirat Anang telah berpulang sejak empat tahun lalu setelah mengalami kecelakaan saat hendak berangkat ke Jakarta untuk berdakwah usai melaksanakan salat Jumat di masjid yang tak jauh dari kampungnya.

Rumah Yoyoh sebetulnya masih bisa dijangkau dari Jakarta, namun desanya tampak terisolir. Butuh waktu tiga sampai empat jam untuk sampai ke Kampung Cimaraca, Desa Curug, Kecamatan Jasinga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Di sanalah Yoyoh tinggal bersama ketiga anak dan sang ayah.

Tak tampak jalan beraspal saat tim PPPA Daarul Qur’an masuk ke kampung Yoyoh. Hanya ada jalan setapak yang masih penuh dengan tanah merah dan bebatuan pegunungan di kampung yang letaknya di tengah-tengah perbukitan itu. Saat hujan tiba, tanah merah dipastikan menyulitkan siapapun yang akan melewati jalan itu.

Belum lagi, lampu-lampu penerang jalan sangat jarang terlihat di sepanjang jalan menuju rumah Yoyoh. Kanan kiri jalan di penuhi pohon-pohon karet dan jati yang masih tumbuh subur, juga dilengkapi ilalang yang tingginya kira-kira sekitar dua meter. Jika ingin ke luar kampung, warga harus mengeluarkan ongkos cukup mahal sekitar Rp20-50 ribu.

“Memang jauh sekali kalau mau kemana-mana. Makanya, anak-anak di sini sekolahnya kebanyakan hanya tamatan SD (sekolah dasar). Warga di sini juga jarang ke luar, aktivitasnya yang laki-laki hanya kuli tani serabutan saja, perempuan jadi pembantu rumah tangga di Jakarta,” ujar Yoyoh menceritakan kondisi kampungnya kepada tim PPPA Daarul Qur’an di depan teras rumahnya, Jumat (4/8).

Semasa hidupnya, tutur Yoyoh, Sumirat dikenal sebagai sosok yang suka menolong. Mulai dari pembangunan masjid, pembagian sembako, sampai membangun paguyuban agar silaturahmi masyarakat desa yang hanya dihuni 80 Kepala Keluarga (KK) ini terjalin dengan baik. Sebab sebelum ada masjid, warga tak bisa salat berjamaah. Dan jika Sumirat tak menggelar pengajian, maka tak ada yang mengaji. Mendiang Sumirat adalah satu-satunya ustad di desa tersebut. Sumirat bisa disebut sebagai pembangun peradaban di desanya.

“Saat almarhum meninggal, warga sangat kehilangan. Dan sampai sekarang belum ada penggantinya. Jadi kalau mau salat Jumat atau mengadakan pengajian besar kami cari ustad dari luar untuk mengisi tausiyah. Soalnya kalau ustadnya enggak ada, ya enggak ada salat Jumat di sini,” ucapnya.

Yoyoh, sempat terpuruk saat Sumirat meninggalkannya. Apa lagi kala itu, putri bungsunya masih berusia sembilan bulan. Alhamdulillah, Yoyoh terus mendapat dukungan dari warga setempat. Ia pun memutuskan bangkit dari keterpurukan dan meneruskan pejuangan suaminya. Dari ibu rumah tangga biasa, kini Yoyoh mengajar ngaji untuk anak-anak dan ibu-ibu di desanya. Menurutnya dengan mengajar, ia bisa sedikit melupakan kesedihannya. Apa lagi, setelah ditinggal Sumirat, tak ada lagi guru ngaji dan rumahnya memang jadi satu-satunya tempat anak-anak dan warga mendawamkan Qur’an.

“Warga juga minta saya ngajar gantikan almarhum supaya enggak terlalu terpuruk. Saya juga mau warga di sini pintar dalam hal agama. Jadi meskipun di sini dianggap kampung yang serba tertinggal, tapi jangan sampai juga tertinggal dari segi ilmu pengetahuan agama. Yah pokoknya mah jangan sampai orang-orang sini terputus ilmu agamanya,” tutur Yoyoh.

Mimpi besar Yoyoh adalah, semua santrinya pintar dalam hal agama dan mengaji. Pun khusus kepada ketiga anaknya yang ia harapkan menjadi sosok pejuang dalam dakwah Islam seperti almarhum Sumirat. Dari hampir 50 santri, tutur Yoyoh, sudah ada tujuh santri yang diyakininya dapat menjadi pemimpin masa depan. Pengajian di rumah Yoyoh berlangsung setiap hari untuk anak-anak dan tiga kali seminggu untuk ibu-ibu. Sementara untuk bapak-bapak digelar hanya malam Jumat karena harus mengundang ustad dari luar.

Alhamdulillah, tim PPPA Daarul Qur’an mendapat kesempatan mendistribusikan Alqur’an di Kampung Cimaraca ini, memberikan penghargaan untuk Yoyoh yang telah mendedikasikan dirinya untuk terus melanjutkan perjuangan sang suami membangun peradaban Islam di kampungnya. Bantuan juga diberikan kepada salah satu warga Kampung Cimaraca yang rumahnya roboh terkena angin putting beliung. Semoga Allah terus menguatkan ikhtiar Yoyoh dan mengabulkan setiap mimpi dan harapan Yoyoh. Aamiin Allahuma Aamiin.

Jaza-Kallah Khairan Katsiiraa kepada jamaah dan donatur yang telah mendukung kami sampai saat ini, semoga menjadi keberkahan untuk Anda dan keluarga, semoga apa yang menjadi hajat dan keinginan bapak/ibu dikabulkan. Amiinn.

 

Rp. 50.000

agus sugeng fitrianto
31 August 17

selalu mendapatkan keberkahan hidup, diberikan keturunan yg sholeh/sholehah, lancar rezeki dan diberikan pekerjaan yang baik juga kesuksesan serta diberikan kesehatan juga mohon dibukakan pintu hati istriku supaya tidak kikir


Rp. 100.000

Hamba Allah
30 August 17


Rp. 100.000

Taufik Fathoni
29 August 17

Rabbana hablana min azwaajina, wa dzurriyyatina qurrata a'yuniw, waj'alna lil muttaqiena imaamaa


Rp. 50.000

Hamba Allah
28 August 17


Rp. 50.000

Hamba Allah
27 August 17

Dilembutkan hati dan diringankan langkah kita untuk istiqomah di jalan yg benar


TAMPILKAN DONATUR LAINNYA

SHARE